Ditulis oleh :
Mahju, Ketua Komunitas Gerakan Peduli Sampah Gili Gede Indah (GPS-GGI) dan Musdan Tokoh Masyarakat Gili Gede
Ntbaktual.com
Lombok Barat, 20/12/2025
Festival yang digelar di Gili Gede, Sekotong, kembali dijual dengan narasi klise: “promosi pariwisata”. Narasi ini terdengar indah, tetapi seperti banyak agenda seremonial lain, ia rapuh ketika diuji dengan realitas di lapangan.
Sebab pertanyaan paling jujur yang harus diajukan adalah:
apakah festival ini benar-benar untuk Gili Gede, atau hanya sekadar panggung pencitraan?
Gili Gede hari ini tidak sedang kekurangan panggung hiburan. Yang kurang adalah pengelolaan sampah, infrastruktur dasar, dan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan. Waste management menjadi isu laten yang terus diabaikan. Sampah bukan hanya persoalan estetika, tetapi ancaman langsung bagi lingkungan laut dan kesehatan masyarakat.
Namun alih-alih menyelesaikan persoalan fundamental ini, anggaran justru diarahkan ke festival acara sesaat yang selesai dalam hitungan hari dan meninggalkan pertanyaan: apa dampak jangka panjangnya?
Logikanya sederhana:
destinasi yang bersih, tertata, dan nyaman akan mempromosikan dirinya sendiri.
Sebaliknya, festival tanpa fondasi hanya akan menjadi kembang api: terang sesaat, lalu gelap kembali.
Selain itu, keputusan menggelar festival laut di bulan Desember patut dipertanyakan secara serius. Ini bukan rahasia. Desember adalah musim angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Sekotong. Risiko keselamatan bukan asumsi ia fakta alamiah.
Maka muncul kecurigaan yang wajar:
apakah perencanaan festival ini benar-benar berbasis kajian lapangan, atau sekadar mengejar tanggal dan agenda?
Jika keselamatan pengunjung dan masyarakat bukan prioritas, lalu apa yang sebenarnya sedang dirayakan?
Hal paling sensitif dan tak bisa diabaikan adalah lokasi festival di Thamrin Resort. Jika tujuan utamanya adalah promosi Gili Gede secara inklusif, mengapa tidak mengambil lokasi di desa, seperti Orong Bukal atau desa lainnya, yang justru merepresentasikan denyut kehidupan masyarakat lokal?
Ini bukan soal iri, bukan soal kebencian personal. Ini soal etika kekuasaan.
Mengapa tidak di desa?
Mengapa tidak di ruang publik masyarakat?
Mengapa justru di properti privat yang terafiliasi langsung dengan pejabat?
Pemilihan resort milik seorang anggota DPRD membuka ruang tafsir publik yang wajar:
apakah ini promosi destinasi, atau promosi personal?
Sebagai penutup, Gili Gede bukan alat pencitraan. Bukan panggung politik. Bukan alat pamer jabatan. Ia adalah ruang hidup masyarakat dan ekosistem yang rapuh.
Jika festival hanya menjadi alat seremonial tanpa menyentuh akar persoalan, maka ia bukan promosi—melainkan pengalihan isu.
Dan publik berhak bertanya, dengan nada yang lebih keras:
siapa yang sebenarnya diuntungkan dari festival ini?











