Oleh: Hasan Asy’ari
(Khodim Ma’had Al-Qur’an Fityanul Ulum Cinere)
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, atau yang akrab disapa Maulana Syaikh, adalah sosok ulama besar yang tidak hanya berjuang di bidang keagamaan, tetapi juga dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa. Beliau merupakan teladan sempurna bagi generasi penerus, bagaimana seorang ulama dapat menjadi pejuang sejati tanpa kehilangan keikhlasan dan kebijaksanaannya.
Maulana Syaikh adalah pribadi muslim yang kaffah — utuh dalam berpikir, beramal, dan berjuang. Pandangannya luas, tidak sempit dalam melihat perbedaan, serta mampu menempatkan agama sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Dalam setiap langkah perjuangannya, semangat keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan berpadu harmonis. Tiga nilai ukhuwwah — ukhuwwah islamiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah basyariyyah — hidup nyata dalam setiap gerak dan keputusan beliau.
Tidak mengherankan jika Jenderal Try Sutrisno pernah menyebut beliau sebagai “pejuang ulama dan ulama pejuang”. Julukan ini bukan sekadar penghormatan, tetapi pengakuan atas kiprah beliau yang sangat langka. Banyak yang menjadi ulama, namun tak berjuang di medan sosial dan politik. Ada pula yang menjadi pejuang, namun kehilangan nilai spiritualnya. Maulana Syaikh hadir memadukan keduanya secara seimbang — berjuang di jalan Allah sekaligus membangun peradaban bangsa.
Kiprah beliau tampak jelas melalui pendidikan. Pendirian Madrasah Al-Mujahidin menjadi bukti nyata semangat jihad beliau di bidang ilmu. Madrasah bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga wadah menanamkan cinta tanah air dan semangat perlawanan terhadap kebodohan dan penjajahan. Dari lembaga ini lahir murid-murid yang meneruskan nilai-nilai keikhlasan, perjuangan, dan kebangsaan yang beliau wariskan.
Dalam dunia politik nasional, Maulana Syaikh dikenal sebagai sosok berprinsip kuat, jauh dari sikap ekstrem dan konfrontatif. Beliau mengedepankan musyawarah, membangun komunikasi, dan berjuang melalui jalur damai. Yang lebih menarik, beliau menolak keras pandangan bahwa agama boleh dijadikan alat politik untuk meraih kekuasaan. Baginya, agama adalah pedoman hidup, bukan alat untuk ambisi pribadi. Ia menentang segala bentuk politik aliran yang dapat memecah belah bangsa dan menodai tujuan luhur agama.
Pada momentum Hari Pahlawan 10 November 2025 ini, kita kembali diingatkan pada semangat dan keteladanan Maulana Syaikh. Beliau mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu dengan senjata, tetapi juga dengan pena, doa, dan pengabdian tulus kepada masyarakat. Semangatnya tetap hidup dalam madrasah, para murid, dan umat yang terus meneladani jejaknya.
Semoga kita semua dapat meneladani semangat beliau — berjuang dengan ilmu, berkhidmat dengan keikhlasan, dan berjuang menegakkan agama sekaligus menjaga persatuan bangsa.
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Jakarta, 13 November 2025
Hasan Asy’ari
Khodim Ma’had Al-Qur’an Fityanul Ulum Cinere











